Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak. Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut. Dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”. Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh. Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : ” Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut. Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya” . Sang ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi. Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”. Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.” Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah. Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: “Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.” Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point. Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.” Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku…… ……… … Inti dari Cerita ini adalah: Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: ” Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya”. http://kembanganggrek2.blogspot.com/ http://kisahislami.com/kisah-tiga-karung-beras/
Wednesday, November 30, 2011
Kisah Tiga Karung Beras
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 11/30/2011 06:03:00 PM 0 comments
Labels: Kisah Bermanfaat dan Penuh Makna
Menunggu Ksatria Pemetik Apel Yang Dinantikan
“Suatu saat di pagi yang cerah. Angin bertiup tenang. Sinar mentari lembut menerangi alam.Tapi sayang, itu semua tidak dapat meredam kegundahan hati sebuah apel yang berada tinggi nun di pucuk. Sejak seminggu lalu Apel itu sibuk berfikir, kenapa aku tidak dipetik orang? Padahal… kulitku licin mulus. Warnaku merah bersinar. Siapa yang melihat pasti meluap-luap seleranya. Pasti mereka terbayang betapa manisnya rasaku. Tapi… kenapa aku tidak dipetik orang? Apel tersebut memandang ke bawah. Heran, kenapa manusia lebih memilih kawan-kawannya yang berada di bawah sana. Bukankah mereka tidak mendapat udara yang bersih dan cahaya mentari seperti aku yang berada di puncak ini? Bukankah kawan-kawanku itu banyak yang telah rusak karena seranggga? Apel tersebut bingung memikirkan kenapa rekan-rekannya yang telah banyak tersentuh dan penuh debu menjadi pilihan, bukan dirinya yang belum tercemar dan dijamah orang. Apa kekurangan diriku? Perasaan rendah diri mulai merasuk. Makin lama makin kuat, diselangi rasa kecewa dan bimbang. Murungnya tidak terbendung lagi. Lalu, pada pagi yang damai dan indah itu, apel tersebut memutuskan menggugurkan dirinya ke tanah. Ketika sudah berada dibawah, hatinya gembira bukan kepalang. Sedetik lagi aku akan dipilih manusia. Warna merahku yang berkilau dan kulitku yang licin mulus ini pasti mencairkan liur mereka. Sang apel menanti manusia beruntung itu. Sayang sekali, sampai malam tiba, tiada seorang pun datang mengambilnya. Rasa gembira pun bertukar menjadi risau dan sedih. Siang berganti malam, hari berganti minggu. Kasihan..akhirnya apel tersebut busuk di tanah menjadi makanan ulat dan serangga. Membusuk dan terinjak-injak manusia.” Wanita itu ibarat apel. Buah yang tidak berkualitas amat mudah dipetik, dijamah dan diambil orang. Tapi apel yang berkualitas, tidak terjangkau dan sulit dijamah orang. Susah dipetik, susah digapai. Mahkota seorang gadis adalah Keimanan dan ketakwaannya. Apabila hilang iman dan takwanya, hancurlah pesonanya. Wanita sanggup jatuhkan martabat tingginya supaya dijamah orang lain. Wahai wanita shalehah yang tinggi martabatnya… yang terpelihara kehormatan dan izzahnya… Bersabarlah! Disaat tak ada yang memetik karena ketinggianmu. Janganlah obral jiwamu hingga kau rela dipetik dan dijamah oleh siapapun. layaknya seperti apel yang mudah dipetik di pinggir jalan. Tungulah, Allah pasti mengirimkan orang yang bersedia memetikmu di ketinggian. Ketinggian yang hanya bisa dipanjat dengan energi keimanan dan ketakwaaan seseorang. Ya Allah… Kutahu, betapa banyak “perhiasan dunia terindah ini” mulai gundah. Gelisah menantikan seseorang. Sepertiga abad penantian kadang tak cukup mendatangkan satria-satria pemetik apel yang dinantikan. Wahai zat yang menguasai seluruh makhluk, jangan biarkan wanita-wanita mulia ini lelah di ketinggian, hingga ia menjatuhkan diri tersungkur dari kemuliaan. Teguhkan hati mereka. Selamatkan mereka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya mereka sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepada mereka… Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada wanita-wanita shalehah jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati. Wallahu a’lamu bishshawab. (kembanganggrek2.blogspot.com)
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 11/30/2011 06:02:00 PM 0 comments
Labels: Kisah Bermanfaat dan Penuh Makna
Rahmat ALLAH Bagi Yang Berjilbab
Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang ‘ngetrend’ dan biasa kita dengar adalah ”Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka ‘ngerumpi’ berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya. Syubhat lainnya lagi adalah ”Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ?? Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana. Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan “tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang itu. Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu “ala llah’ artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah. Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta’ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya. Lengkapnya adalah sebagai berikut: “Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian “(HR. Muslim 2564/33). Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34). Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya. Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat. Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita. Sumber : http://www.facebook.com/index.php?lh=4cce2eeb1f4ab2480408bd28761b1be0#!/note.php?note_id=10150427834785210
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 11/30/2011 05:58:00 PM 0 comments
Wednesday, November 23, 2011
Hanya Sebuah Koin Penyok Yang Kutemukan Tadi Pagi
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa. (IslamMuda.com)
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 11/23/2011 06:36:00 PM 0 comments
Saturday, September 24, 2011
Khalifah Umar bin Khattab ra adalah legenda kepemimpinan dan ketaqwaan, masa mudanya berada dalam kerusakan. Sebagai preman paling ditakuti di Pasar Ukaz di Kota Mekkah pada saat itu. Dan setelah menerima hidayah Islam beliau berubah 180 derajat. Namanya kini melegenda menempati urutan ke 51 sebagai orang yang paling berpengaruh sepanjang masa menurut penulis barat terkenal bernama Michael H. Hart. Berikut nasihatnya yang sangat berharga. Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki. ~ Sayidina Umar bin Khattab Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya. Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. ~ Sayidina Umar bin Khattab Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.-Umar bin Khatab- Umar bin Khattab: “duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah.” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71) Umar bin Khattab: “Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai.” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126) Umar bin Khattab: “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.” (Ihya’ Ulumuddin 4/203) Umar bin Khattab: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan.” (Shifatush Shafwah, I/286) Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. ~ Khalifah ‘Umar Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku. ~ Khalifah ‘Umar Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki Allah pula pada yang nyata di wajahnya.-Umar bin Khatab- Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya.-Umar bin Khattab- Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut.-Umar bin Khattab- Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.-Umar bin Khatab Sumber : http://kisahislami.com/nasihat-amirul-mukminin-umar-bin-khattab-ra/
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 9/24/2011 04:33:00 PM 0 comments
Labels: Kisah Sahabat Rasul
Friday, May 20, 2011
Belumlah Kering Darah yang Menetes dari Pedang Kita
Kala itu di perang Hunain, kaum muslimin menghadapi kafir Quraisy dengan kekuatan tidak berimbang. Kafir Quraisy berjumlah lebih banyak dibanding umat Islam, yang didominasi kaum Anshor. Pertempuran berlangsung sengit dan menimbulkan banyak korban. Sampai akhirnya, dengan kehendak Allah, kaum muslimin beroleh kemenangan.
Kepada para tawanan perang, Rasulullah menawarkan mereka untuk masuk Islam. Sebagian menerimanya. Dan sebagai ‘penghargaan’ Rasulullah menghadiahi mereka dengan ghanimah yang cukup besar. Hal ini didengar oleh kaum Anshor dan ternyata menimbulkan rasa cemburu di benak mereka, “Belumlah kering darah yang menetes dari pedang kita, Rasul telah berlaku demikian”
Hal ini ternyata didengar oleh Rasulullah yang lalu mengumpulkan mereka di suatu tempat. “Hai kaum Anshor, aku ingin bertanya kepada kalian. Bukankah dulu aku datang kepada kalian ketika kalian dalam kenistaan lalu Islam datang membawa kemuliaan melalui perantaraanku; bukankah kalian dulu bertikai lalu Islam mendamaikannya melalui aku?”
Setiap pertanyaan itu selalu dijawab kaum Anshor; “Benar wahai Rasul! Allah dan Rasul-Nya lebih utama!”
Namun Rasulullah selalu kembali bertanya, “Mengapa kalian tidak menjawab?”
“Apa lagi yang harus kami katakan wahai Rasulullah?”
Rasulullah berkata, “Demi Allah, bila kalian mau kalian dapat menjawab: sesungguhnya saat itu engkau datang sebagai orang yang didustakan lalu kami benarkan; engkau datang sebagai orang yang dihinakan namun kami bela; engkau datang sebagai orang yang menderita lalu kami santuni”
Kaum Anshor menyahut histeris, “kemuliaan ada pada allah dan Rasul-Nya.
Nabi lanjut berkata, “Wahai kaum Anshor, apakah kalian masih menginginkan sampah keduniaan yang tiada artinya itu? Apakah kalian tidak bangga melihat orang lain membawa kambing dan unta (ghanimah) sedangkan kalian pulang bersama Aku? Sungguh bila suatu kaum berjalan di suatu lereng gunung dan kaum Anshor berjalang di lereng gunung lainnya, niscaya aku akan berjalan di belakang kaum Anshor. Ya Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshor, anak-anak kaum Anshor, dan cucu kaum Anshor.”
Kaum Anshor menangis histeris mendengarnya sampai jenggotnya basah oleh air mata. “Kami rela mendapatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai jatah kami”
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:07:00 PM 0 comments
Aku Ingin Menemui Allah Dengan Jubah Itu
Paman Rasulullah SAW yang satu ini adalah alumni dari Medan Jihad Badar dan Uhud. Adiknya yang belum baligh bernama Umair r.a menemui syahidnya di tanah Badar. Nama mujahid yang merobek-robek kekaisaran Persia ini bernama Sa’ad bin Abi Waqqash r.a.
Adalah Khalifah ‘Umar Al-Faruq hendak bertekad menyerang kerajaan Persia, untuk menggulingkan pusat pemerintahannya, dan mencabut agama berhala sampai keakar-akarnya di permukaan bumi. Khalifah ‘Umar memerintahkan kepada setiap Gubernur dalam wilayahnya, supaya mengirim kepadanya setiap orang yang mempunyai senjata, atau kuda, atau setiap orang yang mempunyai keberanian, kekuatan, atau orang yang berpikiran tajam, yang mempunyai suatu keahlian seperti syi’ir, berpidato dan sebagainya, yang dapat membantu memenangkan perang. Maka tumpah ruahlah ke Madinah para pejuang muslim dari setiap pelosok.
Setelah semuanya selesai melapor, Khalifah ‘Umar merundingkan dengan para pemuka yang berwenang, siapa kiranya yang pantas dan dipercaya untuk diangkat menjadi panglima angkatan perang yang besar itu. Mereka sepakat dengan aklamasi menunjuk Sa’ad bin Abi Waqqash, singa yang menyembunyikan kuku. Lalu Khalifah menyerahkan panji-panji perang kaum muslimin kepadanya dengan resmi, dalam pengangkatannya menjadi panglima.
Sewaktu angkatan perang yang besar itu hendak berangkat, Khalifah ‘Umar berpidato memberi amanat dan perintah harian kepada Sa’ad. Umar berkata, “Hai Sa’ad! Janganlah engkau terpesona, sekalipun engkau paman Rasulullah, dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Allah menghapus kejahatan dengan kebaikan. Hai, Sa’ad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seorangpun melainkan dengan mentaati-Nya. Segenap manusia sama di sisi Allah, baik ia bangsawan atau rakyat jelata. Allah adalah Rabb mereka, dan mereka semuanya adalah hamba-hamba-Nya. Mereka berlebih-berkurang karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikan cara Rasulullah yang engkau telah ketahui, maka tetaplah ikuti cara beliau itu”.
Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Di dalamnya terdpat 99 orang bekas pahlawan perang Badar, lebih kurang 319 orang para sahabat yang tergolong dalam bai’at Ridwan, 300 orang pahlawan yang ikut dalam penaklukan Makkah bersama-sama Rasulullah saw., 700 orang putra-putra para sahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya (yang keseluruhan berjumlah 30.000 orang). Sampai di Qadisiyah, Sa’ad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Pada hari Al-Harir kaum muslimin bertekad menjadikan hari itu sebagai hari yang menentukan. Mereka mengepung musuh dengan ketat, lalu maju ke depan dari segala arah, sambil membaca takbir.
Dalam pertempuran itu, kepala Rustam, panglima tentara Persia, berpisah dengan tubuhnya oleh lembing kaum muslimin. Maka masuklah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuh-musuh Allah. Sehingga dengan mudah kaum muslimin menghadapi para prajurit Persia dan membunuh mereka. Bahkan kadang-kadang mereka membunuh dengan senjata musuh itu sendiri.
Sa’ad bin Abi Waqqash dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan. Tetapi ketika wafat telah mendekatinya, dia hanya meminta sehelai jubah usang. Ia berkata, “Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapatkan dari seorang musyrik dalam perang Badar. Aku ingin menemui Allah ‘Azza wa jalla dengan jubah itu”. Wallaahu a’lam bish showaab
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:06:00 PM 0 comments
Ashabul Ukhdud (Para Pembuat Parit)
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Pada zaman dahulu, sebelum masa kalian ada seorang raja, dia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir ini sudah semakin tua, dia berkata kepada raja tersebut: “Saya sudah tua, carikan untukku seorang pemuda remaja yang akan saya ajari sihir.” Maka raja itupun mencari seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir.
Adapun pemuda itu, di jalanan yang dilaluinya (menuju tukang sihir) itu ada seorang rahib (ahli ibadah). Lalu dia duduk di majelis rahib tersebut, mendengarkan wejangannya dan ternyata uraian tersebut menakjubkannya. Akhirnya, jika dia mendatangi tukang sihir itu, dia melewati majelis si rahib dan duduk di sana. Kemudian, setelah dia menemui tukang sihir itu, dia dipukul oleh tukang sihir tersebut. Pemuda itupun mengadukan keadaannya kepada si rahib. Kata si rahib: “Kalau engkau takut kepada si tukang sihir, katakan kepadanya: ‘Aku ditahan oleh keluargaku.’ Dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakan kepada mereka: ‘Aku ditahan oleh tukang sihir itu’.”
Ketika dia dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak. Pemuda itu berkata: “Hari ini saya akan tahu, tukang sihir itu yang lebih utama atau si rahib.” Diapun memungut sebuah batu dan berkata: “Ya Allah, kalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa berlalu.” Pemuda itu melemparkan batunya hingga membunuhnya. Akhirnya manusiapun dapat melanjutkan perjalanannya.
Kemudian pemuda itu menemui si rahib dan menceritakan keadaannya. Si rahib berkata kepadanya: “Wahai ananda, hari ini engkau lebih utama daripadaku. Kedudukanmu sudah sampai pada tahap yang aku lihat saat ini. Sesungguhnya engkau tentu akan menerima cobaan, maka apabila engkau ditimpa satu cobaan, janganlah engkau menunjuk diriku.”
Pemuda itupun akhirnya mampu mengobati orang yang dilahirkan dalam keadaan buta, sopak (belang), dan mengobati orang banyak dari berbagai penyakit. Berita ini sampai ke telinga teman duduk sang raja, yang buta matanya. Diapun menemui pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, lalu berkata: “Semua hadiah yang ada di sini adalah untuk engkau, saya kumpulkan, kalau engkau dapat menyembuhkan saya (dari kebutaan ini).”
Anak muda itu menjawab: “Sebetulnya, saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau engkau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya doakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu Dia sembuhkan engkau.”
Teman sang raja itupun beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkannya. Kemudian dia menemui sang raja dan duduk bersamanya seperti biasa. Raja itu berkata kepadanya: “Siapa yang sudah mengembalikan matamu?”
Dia menjawab: “Rabbku.” Raja itu menukas: “Apa kamu punya tuhan selain aku?” Orang itu berkata: “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Raja itupun menangkapnya dan tidak berhenti menyiksanya sampai dia menunjukkan si pemuda. Akhirnya si pemuda ditangkap dan dibawa ke hadapan raja tersebut. Sang raja berkata: “Wahai anakku, telah sampai kepadaku kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta, sopak, dan kamu berbuat ini serta itu.”
Pemuda itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Raja itu menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sampai dia menunjukkan si rahib. Akhirnya si rahib ditangkap dan dihadapkan kepada sang raja dan dipaksa: “Keluarlah dari agamamu.” Si rahib menolak. Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua.
Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan diapun dipaksa: “Keluarlah kamu dari keyakinanmu.” Pemuda itu menolak.
Akhirnya raja itu memanggil para prajuritnya:
“Bawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas.” Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemudapun berdoa: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.” Seketika gunung itu bergetar dan merekapun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui sang raja. Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata: “Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.” Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.” Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.
Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Lalu si pemuda melanjutkan: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”
Kata si pemuda: “Kau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah busur lalu ucapkanlah: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya niscaya engkau akan dapat membunuhku.”
Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata: “Bismillahi Rabbil ghulam”, kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu dan diapun tewas. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata: “Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”
Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya: “Apakah anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).”
Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata: “Siapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau: ceburkan ke dalamnya).” Merekapun melakukannya, sampai akhirnya diseretlah seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Wanita itu mundur (melihat api yang bernyala-nyala), khawatir terjatuh ke dalamnya (karena sayang kepada bayinya). Tapi bayi itu berkata kepada ibunya: “Wahai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau di atas al-haq.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah ini juga dalam Kitab-Nya yang mulia dalam surat Al-Buruj:
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar….”
Itulah kisah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan dalam Kitab-Nya yang mulia agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah mereka.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:05:00 PM 0 comments
Ashim bin Amir dan Kisah Pasukan Berani Mati
Tatkala Sa’ad telah memutuskan niatnya untuk menyeberangi sungai dengan menaiki kuda dan mengerahkan seluruh kekuatannya dalam menaklukkan wilayah Madain, ia pun sadar bahwa dia harus mempunyai persiapan kekuatan energi yang super demi menguasai jembatan yang terletak di seberang sungai tersebut.
Dengan demikian sebagian besar pasukan muslimin yang menyeberang akan terlindungi (selamat).
Sa’ad berkata, “Siapakah yang akan memulai dan menjamin keselamatan kami semua dari serangan yang dilancarkan dari al- Furadh –nama tempat di arah seberang sungai– sehingga kita bertemu dengan musuh, agar mereka tidak mencegahnya keluar?”
Dengan suka rela Ashim mengajukan diri dan diikuti oleh 600 orang pasukan. Kemudian Sa’ad menjadikan Ashim sebagai pemimpin mereka. Pasukan tersebut mulai bergerak, sehingga tiba di tepi sungai Dajlah (Tigris).
Ashim berkata kepada pasukannya, “Siapa yang merasa tertantang bersamaku untuk menjadi orang pertama yang menaklukkan laut ini, sehingga kita mampu menyelamatkan al-Furadh dari seberang sana?”
Kemudian 60 pasukan berkuda itu bangkit, mereka inilah yang diberi nama Pasukan Berani Mati.
Ashim membagi pasukan berkuda menjadi dua bagian, pasukan berkuda betina dan pasukan berkuda jantan.
Ashim menuju pinggir sungai, kemudian menyeru kepada mereka yang masih ragu menyeberang, “Apakah kalian merasa takut menyeberangi air yang setetes ini?”
Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,
‘Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.’ (Al-Imran : 145).
Ashim memacu kudanya dan menerobos sungai, disertai pasukannya. Tatkala ia melihat pasukan berkuda musuh juga menerobos ke dalam sungai, lalu mereka bertanding ditengah sungai. Lalu Ashim menyeru,
“Pasukan tombak, majulah, bidiklah mata.” Mereka bertempur dan saling menikam. Pasukan berkuda menguasai wilayah Persi, lalu kaum muslimin mengikuti mereka dan berhasil membunuh sebagian besar pasukan musuh. Sementara jika di antara musuh ada yang selamat maka mata mereka buta karena terkena tikaman.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:04:00 PM 0 comments
Labels: Kisah Sahabat Rasul
Kisah Wanita Pemungut Sampah yang DiSholatkan oleh Rasulullah SAW
Sebuah riwayat dari Abu Hurairah r.a bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam bernama Ummu Mahjan yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah SAW merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Para sahabat lalu berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah SAW kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:
“Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.” HR An-Nasa’i
Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan r.ha yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam perputaran sejarah bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil.
Oleh karena itu ia mendapatkan perhatian dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga ia wafat. Sehingga beliau menyalahkan para shahabat Beliau yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal kematiannya agar beliau dapat mengantarkan Ummu Mahjan ke tempat tinggalnya yang terakhir di dunia. Bahkan tidak cukup hanya demikian namun beliau bersegera menuju kuburnya untuk menshalatkannya agar Allah menerangi kuburnya dengan shalat beliau.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:03:00 PM 0 comments
Wednesday, April 6, 2011
Di antara mereka yangsyahid itu terdapatAbdullah bin UmmiMaktum yang buta
Posted by aan on April 5, 2011 in Sahabat Nabi · 0 Comment Siapakah laki-laki itu, yang
karenanya Nabi yang mulia
mendapat teguran dari langit
dan menyebabkan beliau sakit?
Siapakah dia, yang karena
peristiwanya Jibril al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah
ke dalam hati Nabi yang mulia?
Dia tidak lain adalah Abdullah bin
Ummi Maktum, muazzin Rasulullah. Abdullah Ummi Maktum, orang
Mekah suku Quraisy. Dia
mempunyai ikatan keluarga
dengan Rasulullah saw., yakni
anak paman ummul mukminin
Khadijah binti Khuwailid r.a. Bapaknya Qais bin Zaid, dan
ibunya Atikah binti Abdullah.
Ibunya bergelar “ummi maktum”, karena anaknya, Abdullah, lahir
dalam kedaan buta total. Ketika cahaya Islam mulai
memancar di Mekah, Allah
melapangkan dada Abdullah bin
Ummi Maktum menerima agama
baru itu. Karena itu, tidak
diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama
masuk Islam. Sebagai muslim
kelompok pertama, Abdullah
turut menanggung segala macam
suka dan duka kaum muslimin di
Mekah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy
seperti yang diderita kawan-
kawannya seagama, berupa
penganiayaan dan berbagai
macam tindak kekerasan lainnya.
Tetapi, apakah karena tindak kekerasan itu lantas Ibnu Ummi
Maktum menyerah? Tidak?! Dia
tidak pernah mundur dan tidak
lemah iman. Bahkan, dia semakin
teguh berpegang pada agama
Islam dan kitab Allah (Alquran). Dia semakin rajin mempelajari
syariat Islam dan sering
mendatangi majlis Rasulullah. Begitu rajin dan rakusnya dia
mendatangi majlis Rasulullah,
menyimak dan menghafal
Alquran, sehingga tiap waktu
senggang selalu diisinya, dan
setiap kesempatan yang baik selalu direbutnya. Karena
rewelnya, dia beruntung
memperoleh apa yang diinginkan
dari Rasulullah, disamping
keuntungan bagi yang lain-lain
juga. Pada masa permulaan tersebut,
Rasulullah saw. sering
mengadakan dialog dengan
pemimpin-pemimpin Quraisy,
seraya mengharap semoga
mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka
dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Umayyah
bin Khalaf dan Walid bin
Mughirah, ayah Saifullah Khalid
bin Walid. Rasulullah berunding dan
bertukar pikiran dengan mereka
tentang Islam. Beliau sangat ingin
mereka menerima dakwah dan
menghentikan penganiayaan
terhadap para sahabat beliau. Sementara, beliau berunding
dengan sungguh-sungguh, tiba-
tiba Abdullah bin Ummi Maktum
datang mengganggu minta
dibacakan kepada ayat-ayat
Alquran. Kata Abdullah, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku
ayat-ayat yang telah diajarkan
Allah kepada Anda!” Rasulullah terlengah
memperdulikan permintaan
Abdullah. Bahkan, beliau agak
acuh terhadap interupsinya itu.
Lalu beliau membelakangi Abdullah
dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy
tersebut. Mudah-mudahan
dengan Islamnya mereka, Islam
bertambah kuat dan dakwah
bertambah lancar. Selesai
berbicara dengan mereka, Rasulullah saw. bermaksud
pulang. Tetapi, tiba-tiba
penglihatan beliau menjadi gelap
dan kepala beliau terasa sakit
seperti kena pukul. Kemudian,
Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
karena seorang buta datang
kepadanya. Tahukah kamu,
barangkali ia ingin membersihkan
dirinya (dari dosa), atau dia
(ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan
manfaat kepadanya? Adapun
orang yang merasa dirinya serba
cukup, maka kamu melayaninya.
Padahal, tidak ada (celaan)
atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman).
Adapun orang yang datang
kepadamu dengan bergegas
(untuk mendapatkan
pengajaran), sedangkan ia takut
kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali
jangan (begitu)! Sesungguhnya
ajaran itu suatu peringatan.
Maka siapa yang menghendaki,
tentulah ia memperbaikinya.
(Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang
dimuliakan, yang ditinggikan lagi
disucikan, di tangan para utusan
yang mulia lagi (senantiasa)
berbakti.” (Abasa: 1 — 16). Enam belas ayat itulah yang
disampaikan Jibril al-Amin ke
dalam hati Rasulullah saw.
sehubungan dengan peristiwa
Abdullah bin Ummi Maktum, yang
senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan
akan terus dibaca sampai hari
kiamat. Sejak hari itu Rasulullah saw.
tidak lupa memberikan tempat
yang mulia bagi Abdullah apabila
dia datang. Beliau menyilakan
duduk di tempat duduknya,
beliau tanyakan keadaannya, dan beliau penuhi kebutuhannya.
Tidaklah heran kalau beliau
memuliakan Abdullah sedemikian
rupa, bukankah teguran dari
langit itu sangat keras! Tatkala tekanan dan
penganiayaan kaum Quraisy
terhadap kaum muslimin semakin
berat dan menjadi-jadi, Allah SWT
mengizinkan kaum muslimin dan
Rasul-Nya hijrah. Abdullah bin Ummi Maktum bergegas
meninggalkan tumpah darahnya
untuk menyelamatkan agamanya.
Dia bersama-sama Mush’ab bin Umair, sahabat-sahabat Rasul
saw. yang pertama-tama tiba di
Madinah. Setibanya di Yatsrib
(Madinah), Abdullah dan Mush’ab segera berdakwah, membacakan
ayat-ayat Alquran dan
mengajarkan pengajaran Islam. Setelah Rasulullah saw. tiba di
Madinah, beliau mengangkat
Abdullah bin Ummu Maktum serta
Bilal bin Rabah menjadi muadzdzin
Rasulullah. Mereka berdua
bertugas meneriakkan kalimah tauhid (azan) lima kali sehari
semalam, mengajak orang
banyak beramal saleh dan
mendorong masyarakat merebut
kemenangan. Apabila Bilal azan,
Abdullah Qamat; Abdullah azan, Bilal qamat. Dalam bulan Ramadhan tugas
mereka bertambah. Bilal azan
tengah malam membangunkan
kaum muslimin untuk makan
sahur dan Abdullah azan ketika
fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak
sudah masuk, agar menghentikan
makan dan minum dan segala
yang membatalkan puasa. Untuk memuliakan Abdullah bin
Ummi Maktum, beberapa kali
Rasulullah mengangkatnya
menjadi wali kota Madinah
menggantikan beliau apabila
meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut
dipercayakan beliau kepada
Abdullah. Salah satu di antaranya
ketika meninggalkan kota
Madinah untuk membebaskan
kota Mekah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy. Setelah perang Badar, Allah
menurunkan ayat-ayat Alquran,
mengangkat derajat kaum
muslimin yang pergi berperang fi
sabilillah. Allah melebihkan derajat
mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak
pergi berperang, dan mencela
orang yang tidak pergi karena
ingin bersantai-santai. Ayat-ayat
tersebut sangat berkesan di hati
Abdullah Ummi Maktum. Tetapi, baginya sukar mendapatkan
kemuliaan tersebut karena dia
buta. Lalu dia berkata kepada
Rasulullah, “Ya Rasulullah! Seandainya saya tidak buta,
tentu saya pergi perang.” Kemudian, dia memohon kepada
Allah dengan hati yang penuh
tunduk semoga Allah menurunkan
ayat-ayat yang menerangkan
tentang orang-orang yang cacat
(uzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak
berperang. Dia senatiasa berdoa
dengan segala kerendahan hati.
Dia berkata, “Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai
orang-orang yang uzur seperti
aku!” Tidak berapa lama, kemudian Allah SWT
memperkenankan doanya. Zaid bin Tsabit, sekretaris
Rasulullah saw. yang bertugas
menuliskan wahyu, menceritakan,
“Aku duduk di samping Rasulullah saw. Tiba-tiba beliau diam,
sedangkan paha beliau terletak
di atas pahaku. Aku belum
pernah merasakan beban yang
paling berat melebihi berat paha
Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan
pahaku hilang, beliau bersabda,
“Tulis, hai zaid!” Lalu aku menuliskan, “Tidak sama orang- orang mukmin yang duduk (tidak
turut berperang) dengan
pejuang-pejuang yang berjihad fi
sabilillah.” (An-Nissa’: 95). Ibnu Ummi Maktum berdiri seraya
berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang
yang tidak sanggup pergi
berjihad (berperang) karena
cacat?” Selesai pertanyaan Abdullah, Rasulullah saw. terdiam
dan paha beliau menekan
pahaku, seolah-olah aku
menanggung beban berat seperti
tadi. Setelah beban berat itu
hilang, Rasulullah saw. berkata, “Coba, baca kembali yang telah engkau tulis!” Aku membaca, “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut
berperang)” Lalu kata beliau, “Tulis!” “Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.” Maka, turunlah pengecualian
yang ditunggu-tunggu Ibnu Ummi
Maktum. Meskipun Allah SWT
telah memaafkan Ibnu Ummi
Maktum dan orang-orang yang
uzur seperti dia untuk tidak berjihad, dia enggan bersantai-
santai beserta orang-orang
yang tidak turut berperang. Dia
tetap membulatkan tekad untuk
turut berperang fi sabiilillah.
Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak
dapat dikatakan besar, kecuali
bila orang itu memikul pula
pekerjaan yang besar. Maka,
karena itu dia sangat gandrung
untuk turut berperang dan menetapkan tugasnya sendiri
untuk berperang dan
menetapkan sendiri tugasnya di
medan perang. Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai
pembawa bendera. Saya akan
memegangnya erat-erat untuk
kalian. Saya buta, karena itu
saya pasti tidak akan lari.” Tahun ke empat belas hijriyah,
khalifah Umar bin Khaththab
memutuskan akan memasuki
Persia dengan perang yang
menentukan, untuk
menggulingkan pemerintah yang dzalim dan menggantinya dengan
pemerintahan Islam yang
demokratis dan bertauhid. Umar
memerintahkan kepada setiap
gubernur dan pembesar dalam
pemerintahannya. “Jangan ada seorang jua pun yang
ketinggalan dari orang-orang
yang bersenjata, atau orang
yang mempunyai kuda, atau
yang berani atau yang
berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada
saya sesegera mungkin!” Maka, berkumpullah kaum
muslimin di Madinah dari segala
penjuru, memenuhi panggilan
khalifah Umar bin Khaththab. Di
antara mereka terdapat
seorang prajurit buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum.
Khalifah Umar mengangkat Sa’ad bin Abu Waqqash menjadi
panglima pasukan yang besar itu.
Kemudian, khalifah memberikan
instruksi-instruksi dan
pengarahan kepada Sa’ad. Setelah pasukan besar itu
sampai di Qadisiyyah, Abdullah bin
Ummi Maktum memakai baju besi
dan perlengkapan yang
sempurna. Dia tampil sebagai
pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa
mengibarkannya atau mati di
samping bendera itu. Pada hari ketiga perang itu,
perang berkecamuk dengan
hebat, yang belum pernah
disaksikan sebelumnya. Kaum
muslimin berhasil memenangkan
perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang
belum pernah direbutnya. Maka,
pindahlah kekuasaan kerajaan
Persia yang besar ke tangan
kaum muslimin, dan runtuhlah
mahligai yang termegah. Berkibarlah bendera tauhid di
bumi penyembah berhala itu. Kemenangan yang meyakinkan
itu dibayar dengan darah dan
jiwa dan ratusan para syuhada.
Di antara mereka yang syahid itu
terdapat Abdullah bin Ummi
Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan
tempur berlumuran darah
syahidnya, sambil memeluk darah
kaum muslimin.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 4/06/2011 01:50:00 PM 0 comments
Labels: Kisah Sahabat Rasul
Tuesday, March 22, 2011
Mangkuk yang Cantik, Madu yang Manis dan Sehelai Rambut
Posted by aan on March 19, 2011 in Muhammad SAW · 0 Comment
Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah Az Zahra r.ha. putri kesayangan Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut ikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu yang manis, dan sehelai rambut).
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.
Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/22/2011 10:59:00 AM 0 comments
Tuesday, March 15, 2011
Tetesan air mata Seorang Ulama besar
Yaitu Syaikh Imam Muhammad Abduh, yang menceritakan kesedihannya di saat kepulangannya dari Eropa. Ia mengatakan bahwa ia telah menemukan praktik Islam di Eropa walaupun tidak menemukan umat Islam. Lalu ia kembali ke wilayah Timur, namun ia tidak menemukan Islam walaupun menemukan umat Islam.
Tetesan air mata tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk menikmati pemandangan laut yang indah dari atas kapal yang sedikit demi sedikit merayap ke tepi laut negerinya, Mesir. Hal itu dikarenakan Ia melihat - di kapal yang sama - seorang wanita Eropa sedang menasihati anaknya dengan nasihat - nasihat etika sosial, lantaran si anak memetik sekuntum bunga dari atas kapal, agar perbuatannya ini jangan sampai mempengaruhi para penumpang kapal lainnya.
Lalu Syaikh Muhammad Abduh menangis terharu oleh moralitas orang - orang Eropa yang mempraktikan nilai - nilai moral Islam dalam kehidupan mereka.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/15/2011 07:16:00 AM 0 comments
Monday, March 14, 2011
Kematian Nabi Sulaiman as. Mematahkan Fitnah
Jin bekerja untuk nabi Sulaiman selama beliau hidup, tatkala beliau wafat tugasnya pun akan terbebas. Nabi Sulaiman meninggal tanpa diketahui oleh jin sehingga para jin tetap bekerja dan mengabdi untuk beliau. Seandainya saja jin ada yang mengetahui hal yang ghaib ini maka jin tidak akan lagi meneruskan pekerjaan mereka. Akhir kisah nabi Sulaiman, yaitu ketika suatu hari beliau memasuki mihrabnya yang terletak di puncak gunung yang dindingnya terbuat dari permata untuk beri’tikaf, beribadah dan sholat. Dan bila beliau sedang berkhalwat, maka tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya. Ketika itu nabi Sulaiman duduk dan bersandar pada tongkatnya seperti sedang tenggelam dalam tafakur.
Beliau berdzikir kepada Allah hingga malaikat maut menemuinya dan nabi Sulaiman pun meninggal. Jin menyangka bahwa beliau sedang shalat sehingga mereka tetap melanjutkan pekerjaannya. Berlalulah waktu yang sangat panjang hingga rayap datang dan mulai memakan tongkatnya nabi Sulaiman.
Tongkat beliau pun menjadi rapuh dan keropos hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya, maka tubuh suci itu pun lalu jatuh dan tersungkur. Manusia pun berdatangan mendekatinya, dan mereka baru sadar bahwa nabi Sulaiman telah meninggal sejak lama. Jin menyadari bahwa mereka tidak mengetahui hal yang ghaib ini dan manusia pun menyadari pula hal yang sangat hakiki ini.
Itulah akhir dari kisah nabi Sulaiman as. yang meninggal dalam keadaan duduk dan shalat di mihrabnya. Berita ini segera menyebar, manusia, burung dan binatang buas mengantarkan jenazahnya dengan diiringi kesedihan yang mendalam. Semua makhluk bersedih, sekumpulan burung pun tampak menangis. Semenjak itu tak ada lagi orang yang dapat memahami bahasa burung, mungkin saja burung bersedih ditinggalkan nabi Sulaiman karena tidak ada lagi yang mengerti tentang bahasa mereka.
Wallahu ‘alam bishowab.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/14/2011 07:47:00 AM 0 comments
Monday, March 7, 2011
Tak Ada kemuliaan yang Melebihi Prajurit Badar
Posted by aan on March 7, 2011 in Sahabat Nabi · 0 Comment
Di Makkah ia tidak mempunyai kedudukan yang tinggi karena ia bukan dari keluarga bangsawan, juga bukan dari keluarga pembesar, bukan hartawan dan bukan pedagang. Tujuan hidupnya yang utama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan itu telah memberinya kemuliaan dan kehormatan. Di antara penghormatan Rasulullah SAW kepada Hatib yaitu baginda SAW telah mengutus ia agar datang kepada Al-Muqauqis, seorang pembesar suku Qibti dari Mesir, untuk menyampaikan surat Rasulullah yang isinya menyeru pada Al-Muqauqis ke dalam Islam.
Setelah Al-Muqauqis membaca surat baginda tersebut dengan cermat, ia memandang Hatib dan bertanya padanya: “Bukankah sahabatmu itu seorang Nabi?” Jawab Hatib. “Benar, Baginda adalah utusan Allah.” Mendengar jawaban Hatib, Al-Muqauqis mengirimkan beberapa hadiah kepada Rasulullah SAW di antara hadiah itu seorang hamba wanita bernama Mariyah Al-Qibtiyah.
Hatib Ibnu Balta’ah adalah seorang penduduk Yaman, ia adalah sahabat Zubair Ibnu Awwam. Ketika ia berhijrah ke Madinah, ia meninggalkan anak dan saudara-saudaranya. Pada masa jahiliyah, ia seorang penunggang kuda yang berani dan penyair ulung. Bait-bait syairnya sering disebarkan oleh para perawi dan dilagukan para kafilah dagang Arab. Ia masuk Islam ketika ia masih muda belia. Dan ia sangat tekun mempelajari syariat Islam dan ajarannya ketika ia masih muda. Selain itu pada perang Badar, ia turut bergabung dalam jihad fisabilillah; dan ia juga ikut bersama Rasulullah pergi ke Al-Hudaibiyah dan menyaksikan “Baiatur Ridwan.”
Mengkhanati Rasulullah
Pada tahun 8 H. di saat Rasulullah SAW sedang sibuk mempersiapkan penaklukan kota Makkah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah, ketika itu fikiran Hatib gundah gulana. Ia sedih memikirkan anak-anaknya dan keluarganya yang tidak aman daripada penganiayaan kaum Quraisy, karena di Makkah mereka tidak mempunyai pelindung yang dapat melindungi dan menjaga mereka daripada musuh-musuh Islam. Bisikan-bisikan syaitan selalu menggoda fikirannya hingga ia merasa kalut, dan fikirannya buntu. Maka ia memutuskan akan mendekati kaum musyrikin Quraisy dengan memberitahu pada mereka mengenai rahasia-rahasia kekuatan senjata yang telah dipersiapkan Rasulullah untuk penaklukan atas kota Makkah.
Tidak pernah terfikirkan olehnya, bahwa perbuatan itu merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa rahasia tentara adalah amanat yang ada di bahu para perajurit. Bila salah satu rahasia sampai dibocorkan, maka perajurit tersebut akan mendapat amarah dari Allah, malaikat-Nya dan semua kaum muslimin, karena ia membocorkan rahasia kekuatan laskar yang akan menghadapkan pasukannya pada bahaya dan sekaligus menghadapkan tanah air pada kebinasaan.
Itulah langkah yang terburuk dalam kehidupan Hatib Ibnu Balta’ah. Ia bertekad untuk memberitahu kaum Quraisy tentang tentara Islam yang telah dipersiapkan Rasulullah SAW. Cahaya iman telah padam di hatinya. Ia tidak lagi memikirkan keagungan akidah. Maka dengan tangan gemetar ia mulai menulis surat kepada pembesar-pembesar Quraisy, membuka rahasia laskar Islam yang dipersiapkan secara matang oleh Rasulullah ke Makkah, agar mereka mempunyai gambaran atas keadaan kaum muslimin Madinah.
Surat itu diserahkan kepada seorang wanita. Ia menyuruh wanita tersebut agar merahasiakan surat itu di sanggul rambutnya sehingga jika ada orang yang menghadang kenderaannya, maka surat itu tidak akan diketahui. Ia berjanji pada wanita itu akan memberi hadiah yang mahal bila surat itu telah sampai di tangan pembesar Quraisy.
Baru saja wanita tersebut meninggalkan Madinah, malaikat Jibril segera memberitahu Rasulullah tentang apa yang telah dilakukan Hatib. Maka Rasulullah cepat-cepat memanggil Ali Ibn Abi Thalib dan Zubair Ibn Awwam. Baginda berkata: “Kejarlah wanita itu, ia memberitahu surat Hatib untuk para pembesar Quraisy yang isinya menerangkan mereka tentang persiapan yang telah kita himpun dalam menaklukkan mereka.”
Ali dan Zubair bergegas keluar mencari wanita itu dan keduanya menemukan wanita tersebut di daerah Raudhah Khah. Ketika Ali ra. menyuruh wanita itu supaya mengeluarkan surat Hatib, wanita itu tidak mengaku kalau ia sedang membawa surat. Maka Ali pun berdiri dan memeriksa kenderaannya, tetapi ia tidak menemukan surat itu.
Akhirnya dengan marah Ali memandang wanita itu dan berkata: “Aku bersumpah kepada Allah bahwa Rasulullah tidak pernah berdusta. Sekarang kamu harus pilih apakah kamu mau menyerahkan surat itu kepadaku, ataukah aku harus menelanjangi kamu!” Setelah Ali bersikap kasar dan memberi dua pilihan, akhirnya wanita itu berkata: “Berpalinglah.” Setelah itu Ali membalikkan badan kemudian wanita itu membuka ikatan rambutnya dan mengeluarkan surat darinya, lalu menyerahkan surat itu kepada Ali.
Ali dan Zubair segera kembali kepada Rasulullah dengan membawa surat Hatib. Rasulullah menghadirkan Hatib Ibn Abu Balta’ah dan bertanya kepadanya, “Wahai Hatib, apa yang mendorong kamu berbuat demikian?” Maka oleh Hatib dijawab dengan nada terputus-putus: “Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa menghukum diriku. Semua itu kulakukan karena aku bukan dari golongan Quraisy, di Makkah aku masih mempunyai sanak saudara. Maka aku ingin kaum Quraisy menjaga keluargaku di Makkah. Dan sungguh, itu aku lakukan bukan karena aku telah murtad dari Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”
Rasulullah memandang semua sahabat yang hadir dengan wajah bersinar, dan baginda berkata kepada mereka: “Bagaimana pun juga, ia telah berkata jujur.”
Suasana majlis menjadi hening sejenak, tiba-tiba Umar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini.”
Umar berpandangan bahwa membocorkan rahasia-rahasia laskar Islam merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka balasannya adalah harus dibunuh. Orang yang mengadakan hubungan dengan musuh, maka balasannya adalah dijatuhi hukuman mati.
Sementara itu Rasulullah telah memaafkan Hatib karena ia telah mengakui dosanya. Selain itu baginda mengingat perjuangan Hatib di masa lalu karena ia berjuang di medan perang Badar, sehingga banyak pasukan musyrikin yang mati di bawah tebasan pedangnya. Ia berani menghadapi bahaya dengan menerjang barisan musuh. Rasulullah juga mengingat posisi Hatib pada hari Bai’atur Ridwan di bawah sebuah pohon yang diberkahi, di mana pada saat itu para malaikat menyaksikan orang-orang mukmin yang sedang mengulurkan tangan mereka untuk berbaiat kepada Rasulullah.
Kesalahan Hatib Dimaafkan
Atas tiga dasar itu, maka baginda memandang Umar dan berkata: “Wahai Umar bagaimana pendapatmu, jika Allah telah memberi kelonggaran pada pejuang Badar?” Allah berfirman dalam Al-Ouran surah Al-Mumtahanah ayat 1 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia, (sehingga) kamu menyampaikan kepada mereka (berita-berita) Muhammad, dikarenakan rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasulullah dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku. Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Barangsiapa di antara kamu yang melakukan, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan lurus.”
Hal lain yang menguatkan diterimanya taubat Hatib; pada suatu hari salah seorang pelayan Hatib datang kepada Rasulullah untuk mengadukan perlakuan Hatib kepadanya, kemudian pelayan itu berkata: “Wahai Rasulullah, kelak sungguh Hatib akan masuk neraka.” Tetapi Rasulullah berkata: “Tidak, karena ia ikut berperang pada peristiwa Badar dan juga ikut dalam perjanjian Hudaibiyah.”
Sejak saat itu, Hatib menangis menyesali perbuatannya. Siang dan malam dilakukan dengan selalu memohon ampunan kepada Allah atas kekhilafannya hingga ia meninggal dunia pada usia 53 tahun tepatnya pada tahun 30 H. yaitu pada masa pemerintahan Usman Ibn Affan. Ia menghadapi kematian dengan jiwa yang ridha karena ia tahu bahwa Rasulullah telah memaafkannya meskipun ia telah mengkhianati hak Allah, Rasulullah dan kaum mukminin.
Sumber : kisahislami.com
http://kisahislami.com/tak-ada-kemuliaan-yang-melebihi-prajurit-badar/
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/07/2011 11:50:00 AM 0 comments
Thursday, March 3, 2011
Beratnya Jadi Seorang Pemimpin
Di kisahkan dari Abu Wail Shaqiq
bin Salamah sesungguhnya Umar
bin Khathab ra. telah melantik
Bashar bin Asim ra. untuk
memungut zakat penduduk
Hawazin. Bashar ra. telah melewat-lewatkan kepergiannya
lalu beliau telah ditemui oleh
Umar ra. dan telah berkata
kepadanya, “Apakah yang telah menyebabkanmu terlambat?”. Adakah kamu tidak mendengar
dan taat kepada perintah
kami?”. Bashar ra. berkata, “Tidak, melainkan aku telah mendengar Rasulullah SAW
bersabda,”Barang siapa yang menjadi ketua bagi sesuatu
urusan kaum Muslimin, maka ia
akan datang pada hari kiamat
sehingga ia akan berdiri di atas
sebuah jembatan Neraka. Jika ia
telah melakukan kebaikan, ia akan selamat. Jika telah
melakukan kejahatan, jembatan
itu akan runtuh lalu ia akan
terjatuh ke dalam api Neraka
tersebut selama tujuh puluh
tahun”. Abu Dzar ra. telah berkata
kepada Umar ra. “Adakah kamu telah mendengar sesuatu dari
Rasulullah SAW?” Umar ra. pun menjawab. “Tidak”. Abu Dzar ra. berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW
bersabda, ‘ Barangsiapa yang bertanggungjawab ke atas
urusan kaum Muslimin, ia akan
datang pada hari kiamat
sehingga ia akan berdiri di atas
sebuah jembatan neraka. Jika
beliau melakukan melakukan kebaikan dalam
tanggungjawabnya ia akan
selamat. Jika sebaliknya
jembatan itu akan rubuh dan ia
akan tejatuh ke dalam neraka
itu selama tujuh puluh tahun dan Neraka itu amat gelap dan
hitam’ . Maka hadis yang mana satukah
yang lebih menggetarkan
hatimu?”. Umar ra. mejawab, “Kedua-duanya. Oleh karena itu siapakah yang mau mengambil
jabatan Khalifah ini?”. Abu Dzar ra. pun berkata, “Hanya orang yang hidungnya telah terpotong
dan pipinya telah dilekatkan
diatas tanah yang akan
mengambil alih jabatan ini.
Adapun aku tidak mengetahui
melainkan jabatan Khalifah ini baik untuk mu. Karena jika kamu
memberikan jabatan Khalifah ini
kepada seseorang yang tidak
akan berlaku adil, kamu juga
akan menanggung dosa bersama
dengannya”.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/03/2011 01:33:00 PM 0 comments
Wednesday, March 2, 2011
Kisah Penuh Hikmah Dari Luqman Hakim
Dalam sebuah riwayat
diceritakan bahwa pada suatu
hari Luqman Hakim telah masuk
ke dalam pasar dengan menaiki
seekor himar, dan anaknya
mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu,
setengah orang-orang pun
berkata, ‘ Lihat orang tua itu yang tidak punya rasa kasihan
karena anaknya dibiarkan
berjalan kaki.” Setelah mendengarkan desas-
desus dari orang-orang maka
Luqman pun turun dari himarnya
itu lalu diletakkan anaknya di
atas himar itu. Melihat yang
demikian, maka orang di passar itu berkata pula, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan
anaknya enak saja menaiki himar
itu, sungguh kurang adab anak
itu.” Mendengar kata-kata orang di
pasar itu, Luqman pun terus naik
ke atas belakang himar itu
bersama-sama dengan anaknya.
Kemudian orang ramai kini
berkata lagi, “Lihatlah itu dua orang menaiki seekor himar,
sungguh sangat menyiksa himar
itu.” Kerana tidak suka mendengar
percakapan orang-orang di
pasar itu, maka Luqman dan
anaknya turun dari himar itu,
kemudian terdengar lagi suara
orang berkata, “Dua orang kok berjalan kaki, sedangkan himar
itu tidak dikenderai, betapa
bodohnya mereka” Dalam perjalanan pulang ke
rumah, Luqman Hakim telah
menasihatai anaknya tentang
sikap manusia dan ocehan
mereka, katanya,
“Sesungguhnya tidak akan terlepas seseorang itu dari
pergunjingan manusia. Dan hanya
orang yang berakal yang akan
mengambil pertimbangan hanya
kepada Allah S.W.T saja. Barang
siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya
dalam setiap urusan hidupnya.” Kemudian Luqman Hakim
berpesan kepada anaknya,
katanya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal
supaya kamu tidak menjadi fakir.
Sesungguhnya tiadalah orang
fakir itu melainkan tertimpa
kepadanya tiga perkara, iaitu
tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah
akalnya (mudah tertipu dan
diperdayai orang) dan hilang
kemuliaan hatinya
(keperibadiannya), dan lebih
celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka
merendah-rendahkan dan
meringan-ringankannya.”
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/02/2011 12:52:00 PM 0 comments
Friday, February 18, 2011
KAU LAH AYAH KU , AYAH KEBANGGAN KU ..
Kau membuat q tertawa ketika q menangis melihat tubuh mu yang kini tak tegap seperti dulu ..
Candaan mu yang selalu berhasil membuat q tertawa , pelukanmu yang hangat , ciumanmu yang lembut , kan q ingat selalu hingga nanti ..
Kau selalu berpesan kepada q agar q tidak sepertimu, namun justru aq ingin jadi sepertimu yang masih dan selalu kuat dalam menghadapi kerasnya hidup ini , digrogoti penyakit sana sini , dimakan usia , tapi kau masih sempat membuat orang sekelilingmu bahagia :')
Kau lah AYAH q , AYAH kebanggaanku :'D
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 2/18/2011 11:52:00 PM 0 comments
Tuesday, February 15, 2011
Hukum Valentine dalam Islam
TINJAUAN HISTORISThe World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day : Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998). The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine. Ia adalah seorang Bishop (Pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Iapun dikejar-kejar karena mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Bishop (Pendeta) itu mengirim surat kepada para putri penjaga-penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia.
“Dari Valentinemu” demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang. Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998). Versi ketiga perayaan ini dihubungkan dengan St. Valentine, seorang Pendeta yang hidup di Roma pada tahun 200 masehi, dibawah kekuasaan Kaisar Claudius II. St. Valentine ini pernah ditangkap oleh orang-orang Romawi dan dimasukkan ke dalam penjara, karena dituduh membantu satu pihak untuk memusuhi dan menentang Kaisar. St. Valentine ini berhasil ditangkap pada akhir tahun 270 masehi. Kemudian orang-orang Romawi memenggal kepalanya di Palatine Hill (Bukit Palatine) dekat altar Juno. Adapun Kebiasaan mengirim kartu Valentine yang sering dilakukan pada saat perayaan hari kasih sayang tersebut, tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998). Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
TINJAUAN SOSIOLOGIS
Perayaan valentine’s day mulai membudaya di kalangan masyarakat kita khususnya dikalangan kawula muda, sekitar akhir tahun 1980-an berbarengan dengan munculnya televisi-televisi swasta yang banyak mengupas dan menayangkan berita ataupun film-film yang bertemakan perayaan tersebut. Sejak itulah, perayaan valentine’s day digandrungi oleh para generasi muda, sebagai akibat dari penetrasi budaya asing yang masuk lewat pemberitaan berbagai media baik cetak maupun elektronik. Perayaan ini pun dikenal oleh mereka sebagai perayaan hari kasih sayang, yang menurut mereka adalah moment yang paling tepat untuk mengungkapakan perasaan cita dan kasih sayang kepada orang-orang yang dekat di hati. Perayaan ini biasanya dilaksanakan di kafe-kafe, hotel-hotel atau tempat-tempat yang romantis, di mana setiap pasangan memberikan hadiah berupa kue coklat atau bunga yang bertuliskan “I wish you will be my valentine” kepada yang lain.
Setelah itu diadakan pesta-pesta dan hura-hura. Ini tidak asing karena budaya ini memang hasil import dari budaya barat yang bersifat permissif (serba boleh) dan hedonis (menurutkan hawa nafsu). Bahkan belakangan ini, pesta perayaan valentine’s day dirayakan dengan perbuatan-perbuatan yang amoral dan jauh dari temanya itu sendiri. Banyak kita dapatkan di pemberitaan televisi maupun koran-koran sekelompok anak muda yang menghabiskan malam perayaan tersebut dengan pesta seks dan narkoba (naudzubillahi min dzalik).
TINJAUAN SYAR’I
Perayaan tersebut hanya menjadi lahan subur bagi terjadinya praktek-praktek kemaksiatan serta perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma agama, yang bisa membawa bencana ke dalam masyarakat kita. Adapun tema kasih sayang yang sering menjadi alasan orang untuk ikut merayakannya, Islam tidak memungkiri bahwasanya hal tersebut sesuatu yang asasi bagi manusia. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “Sayangilah apa yang ada di muka bumi maka yang berada di langit akan menyayangimu”. Tetapi Islam memerintahkan bahwa perasaan kasih sayang tersebut harus diwujudkan sesuai dengan aturan-aturan syar’i. Ini penting untuk diperhatikan Karena biasanya perayaan ini banyak dilakukan oleh generasi muda yang memanfaatkan perayaan tersebut untuk menjalin perasaan kasih sayang dengan lawan jenis yang jauh dari nilai-nilai syar’i.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 2/15/2011 07:00:00 AM 0 comments
Wednesday, February 2, 2011
Tinggalkan yang haram, engkau akan dapat yang halal
Suatu malam yang hening, terlihat seorang lelaki berjalan-jalan di sekitar Madinah dalam keadaan lapar. Dia berhenti di luar sebuah rumah karena hidungnya mencium aroma makanan. Tampaknya iman dalam dirinya belum cukup kuat untuk menuntun perilakunya. Karena tergiur dengan makanan itu, dia menyusup masuk ke dalam rumah tersebut tanpa izin. Namun, ketika dia hendak mengulurkan tangannya untuk menggapai makanan tersebut, tiba-tiba dia teringat pesan Rasulullah SAW yang pernah didengarnya “Barangsiapa meninggalkan yang haram, dia akan mendapat yang halal”.
Mengingat kata-kata itu, dia urung mengambil makanan tadi. Dia hendak segera pergi, tapi godaan lain berkelebat di depan mata. Sebuah bungkusan menarik perhatiannya. Segera bungkusan itu di genggamnya, dengan rasa yakin tak ada orang yang tahu. Namun sekali lagi niat jahatnya dilumpuhkan oleh pesan Rasulullah SAW “Tinggalkan yang haram, engkau akan dapat yang halal”. Diletakkannya kembali barang berharga itu seraya membatin “Haram mengambil barang milik orang lain”
Belum sempat melangkah keluar, matanya menangkap godaan lebih hebat. Dadanya berdebar kencang melihat seorang perempuan cantik sedang terlelap di atas kasurnya. Perlahan dia mendekat. Tangannya bergetar, peluhpun mengalir membasahi tubuh. Nafsu membisikkan kata-kata indah ditelinganya, namun pesan Rasulullah SAW kembali kencang terngiang “Tinggalkan yang haram, akan kau dapatkan yang halal”
Dia pun beristighfar sembari perlahan melangkah pergi membawa pesan Rasulullah SAW yang melekat disanubarinya. Dia berhasil mematahkan keinginan nafsunya. Lega di hatinya sangat terasa begitu kakinya telah menapak di masjid Nabi, seusai “perang sengit” melawan godaan syaitan. Selesai sholat subuh berjamaah, lelaki itu merebahkan diri di lantai masjid, karena rasa kantuk yang tak kuasa ia lawan.
Setelah matahari meninggi, seorang perempuan datang menjumpai Rasulullah SAW di masjid. Dia mengadu rumahnya dimasuki orang. Dia takut hal itu terjadi lagi, lalu meminta kepada Beliau SAW seorang pengawal yang dapat menjaga rumah dan hartanya. Rupanya dia seorang janda.
Rasulullah SAW memandang sekelilingnya, kalau-kalau ada orang yang dapat menjaga wanita itu. Matanya tertuju pada sosok lelaki sedang terlelap di sudut masjid. Beliaupun menemui dan menanyainya, adakah dia telah beristri “Saya seorang duda”, jawab lelaki itu singkat. Beliau lalu bertanya kepada si wanita dan si lelaki, apakah keduanya bersedia menjadi suami istri. keduanya tampak tersipu malu mendengar tawaran Rasulullah SAW.
Teringat perbuatannya semalam, lelaki itu tidak dapat menahan diri daripada menangis lalu menceritakan apa yang sebenarnya berlaku di rumah wanita tersebut. Dia bertaubat. Dan akhirnya Rasulullah SAW menikahkan lelaki dan wanita itu dengan disaksikan oleh para Sahabat. Berkat meninggalkan yang haram, dia mendapat yang halal sebagai penggantinya.
Kini, wanita cantik itu dan segala di dalam rumahnya menjadi halal baginya. Godaan syaitan selalu datang di sepanjang umur kita. Tetapi umur itu akan menjadi indah, jika pada saat godaan itu datang
kita mampu menahan diri, menekan nafsu, melawan syaitan agar bisa terhindar dari perangkap yang membinasakan, seperti halnya lelaki dalam kisah ini.
Source : http://kisahislami.com/tinggalkan-yang-haram-engkau-akan-dapat-yang-halal/
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 2/02/2011 10:17:00 PM 0 comments
