Wednesday, April 6, 2011

Di antara mereka yangsyahid itu terdapatAbdullah bin UmmiMaktum yang buta

Posted by aan on April 5, 2011 in Sahabat Nabi · 0 Comment Siapakah laki-laki itu, yang
karenanya Nabi yang mulia
mendapat teguran dari langit
dan menyebabkan beliau sakit?
Siapakah dia, yang karena
peristiwanya Jibril al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah
ke dalam hati Nabi yang mulia?
Dia tidak lain adalah Abdullah bin
Ummi Maktum, muazzin Rasulullah. Abdullah Ummi Maktum, orang
Mekah suku Quraisy. Dia
mempunyai ikatan keluarga
dengan Rasulullah saw., yakni
anak paman ummul mukminin
Khadijah binti Khuwailid r.a. Bapaknya Qais bin Zaid, dan
ibunya Atikah binti Abdullah.
Ibunya bergelar “ummi maktum”, karena anaknya, Abdullah, lahir
dalam kedaan buta total. Ketika cahaya Islam mulai
memancar di Mekah, Allah
melapangkan dada Abdullah bin
Ummi Maktum menerima agama
baru itu. Karena itu, tidak
diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama
masuk Islam. Sebagai muslim
kelompok pertama, Abdullah
turut menanggung segala macam
suka dan duka kaum muslimin di
Mekah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy
seperti yang diderita kawan-
kawannya seagama, berupa
penganiayaan dan berbagai
macam tindak kekerasan lainnya.
Tetapi, apakah karena tindak kekerasan itu lantas Ibnu Ummi
Maktum menyerah? Tidak?! Dia
tidak pernah mundur dan tidak
lemah iman. Bahkan, dia semakin
teguh berpegang pada agama
Islam dan kitab Allah (Alquran). Dia semakin rajin mempelajari
syariat Islam dan sering
mendatangi majlis Rasulullah. Begitu rajin dan rakusnya dia
mendatangi majlis Rasulullah,
menyimak dan menghafal
Alquran, sehingga tiap waktu
senggang selalu diisinya, dan
setiap kesempatan yang baik selalu direbutnya. Karena
rewelnya, dia beruntung
memperoleh apa yang diinginkan
dari Rasulullah, disamping
keuntungan bagi yang lain-lain
juga. Pada masa permulaan tersebut,
Rasulullah saw. sering
mengadakan dialog dengan
pemimpin-pemimpin Quraisy,
seraya mengharap semoga
mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka
dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Umayyah
bin Khalaf dan Walid bin
Mughirah, ayah Saifullah Khalid
bin Walid. Rasulullah berunding dan
bertukar pikiran dengan mereka
tentang Islam. Beliau sangat ingin
mereka menerima dakwah dan
menghentikan penganiayaan
terhadap para sahabat beliau. Sementara, beliau berunding
dengan sungguh-sungguh, tiba-
tiba Abdullah bin Ummi Maktum
datang mengganggu minta
dibacakan kepada ayat-ayat
Alquran. Kata Abdullah, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku
ayat-ayat yang telah diajarkan
Allah kepada Anda!” Rasulullah terlengah
memperdulikan permintaan
Abdullah. Bahkan, beliau agak
acuh terhadap interupsinya itu.
Lalu beliau membelakangi Abdullah
dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy
tersebut. Mudah-mudahan
dengan Islamnya mereka, Islam
bertambah kuat dan dakwah
bertambah lancar. Selesai
berbicara dengan mereka, Rasulullah saw. bermaksud
pulang. Tetapi, tiba-tiba
penglihatan beliau menjadi gelap
dan kepala beliau terasa sakit
seperti kena pukul. Kemudian,
Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
karena seorang buta datang
kepadanya. Tahukah kamu,
barangkali ia ingin membersihkan
dirinya (dari dosa), atau dia
(ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan
manfaat kepadanya? Adapun
orang yang merasa dirinya serba
cukup, maka kamu melayaninya.
Padahal, tidak ada (celaan)
atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman).
Adapun orang yang datang
kepadamu dengan bergegas
(untuk mendapatkan
pengajaran), sedangkan ia takut
kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali
jangan (begitu)! Sesungguhnya
ajaran itu suatu peringatan.
Maka siapa yang menghendaki,
tentulah ia memperbaikinya.
(Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang
dimuliakan, yang ditinggikan lagi
disucikan, di tangan para utusan
yang mulia lagi (senantiasa)
berbakti.” (Abasa: 1 — 16). Enam belas ayat itulah yang
disampaikan Jibril al-Amin ke
dalam hati Rasulullah saw.
sehubungan dengan peristiwa
Abdullah bin Ummi Maktum, yang
senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan
akan terus dibaca sampai hari
kiamat. Sejak hari itu Rasulullah saw.
tidak lupa memberikan tempat
yang mulia bagi Abdullah apabila
dia datang. Beliau menyilakan
duduk di tempat duduknya,
beliau tanyakan keadaannya, dan beliau penuhi kebutuhannya.
Tidaklah heran kalau beliau
memuliakan Abdullah sedemikian
rupa, bukankah teguran dari
langit itu sangat keras! Tatkala tekanan dan
penganiayaan kaum Quraisy
terhadap kaum muslimin semakin
berat dan menjadi-jadi, Allah SWT
mengizinkan kaum muslimin dan
Rasul-Nya hijrah. Abdullah bin Ummi Maktum bergegas
meninggalkan tumpah darahnya
untuk menyelamatkan agamanya.
Dia bersama-sama Mush’ab bin Umair, sahabat-sahabat Rasul
saw. yang pertama-tama tiba di
Madinah. Setibanya di Yatsrib
(Madinah), Abdullah dan Mush’ab segera berdakwah, membacakan
ayat-ayat Alquran dan
mengajarkan pengajaran Islam. Setelah Rasulullah saw. tiba di
Madinah, beliau mengangkat
Abdullah bin Ummu Maktum serta
Bilal bin Rabah menjadi muadzdzin
Rasulullah. Mereka berdua
bertugas meneriakkan kalimah tauhid (azan) lima kali sehari
semalam, mengajak orang
banyak beramal saleh dan
mendorong masyarakat merebut
kemenangan. Apabila Bilal azan,
Abdullah Qamat; Abdullah azan, Bilal qamat. Dalam bulan Ramadhan tugas
mereka bertambah. Bilal azan
tengah malam membangunkan
kaum muslimin untuk makan
sahur dan Abdullah azan ketika
fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak
sudah masuk, agar menghentikan
makan dan minum dan segala
yang membatalkan puasa. Untuk memuliakan Abdullah bin
Ummi Maktum, beberapa kali
Rasulullah mengangkatnya
menjadi wali kota Madinah
menggantikan beliau apabila
meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut
dipercayakan beliau kepada
Abdullah. Salah satu di antaranya
ketika meninggalkan kota
Madinah untuk membebaskan
kota Mekah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy. Setelah perang Badar, Allah
menurunkan ayat-ayat Alquran,
mengangkat derajat kaum
muslimin yang pergi berperang fi
sabilillah. Allah melebihkan derajat
mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak
pergi berperang, dan mencela
orang yang tidak pergi karena
ingin bersantai-santai. Ayat-ayat
tersebut sangat berkesan di hati
Abdullah Ummi Maktum. Tetapi, baginya sukar mendapatkan
kemuliaan tersebut karena dia
buta. Lalu dia berkata kepada
Rasulullah, “Ya Rasulullah! Seandainya saya tidak buta,
tentu saya pergi perang.” Kemudian, dia memohon kepada
Allah dengan hati yang penuh
tunduk semoga Allah menurunkan
ayat-ayat yang menerangkan
tentang orang-orang yang cacat
(uzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak
berperang. Dia senatiasa berdoa
dengan segala kerendahan hati.
Dia berkata, “Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai
orang-orang yang uzur seperti
aku!” Tidak berapa lama, kemudian Allah SWT
memperkenankan doanya. Zaid bin Tsabit, sekretaris
Rasulullah saw. yang bertugas
menuliskan wahyu, menceritakan,
“Aku duduk di samping Rasulullah saw. Tiba-tiba beliau diam,
sedangkan paha beliau terletak
di atas pahaku. Aku belum
pernah merasakan beban yang
paling berat melebihi berat paha
Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan
pahaku hilang, beliau bersabda,
“Tulis, hai zaid!” Lalu aku menuliskan, “Tidak sama orang- orang mukmin yang duduk (tidak
turut berperang) dengan
pejuang-pejuang yang berjihad fi
sabilillah.” (An-Nissa’: 95). Ibnu Ummi Maktum berdiri seraya
berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang
yang tidak sanggup pergi
berjihad (berperang) karena
cacat?” Selesai pertanyaan Abdullah, Rasulullah saw. terdiam
dan paha beliau menekan
pahaku, seolah-olah aku
menanggung beban berat seperti
tadi. Setelah beban berat itu
hilang, Rasulullah saw. berkata, “Coba, baca kembali yang telah engkau tulis!” Aku membaca, “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut
berperang)” Lalu kata beliau, “Tulis!” “Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.” Maka, turunlah pengecualian
yang ditunggu-tunggu Ibnu Ummi
Maktum. Meskipun Allah SWT
telah memaafkan Ibnu Ummi
Maktum dan orang-orang yang
uzur seperti dia untuk tidak berjihad, dia enggan bersantai-
santai beserta orang-orang
yang tidak turut berperang. Dia
tetap membulatkan tekad untuk
turut berperang fi sabiilillah.
Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak
dapat dikatakan besar, kecuali
bila orang itu memikul pula
pekerjaan yang besar. Maka,
karena itu dia sangat gandrung
untuk turut berperang dan menetapkan tugasnya sendiri
untuk berperang dan
menetapkan sendiri tugasnya di
medan perang. Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai
pembawa bendera. Saya akan
memegangnya erat-erat untuk
kalian. Saya buta, karena itu
saya pasti tidak akan lari.” Tahun ke empat belas hijriyah,
khalifah Umar bin Khaththab
memutuskan akan memasuki
Persia dengan perang yang
menentukan, untuk
menggulingkan pemerintah yang dzalim dan menggantinya dengan
pemerintahan Islam yang
demokratis dan bertauhid. Umar
memerintahkan kepada setiap
gubernur dan pembesar dalam
pemerintahannya. “Jangan ada seorang jua pun yang
ketinggalan dari orang-orang
yang bersenjata, atau orang
yang mempunyai kuda, atau
yang berani atau yang
berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada
saya sesegera mungkin!” Maka, berkumpullah kaum
muslimin di Madinah dari segala
penjuru, memenuhi panggilan
khalifah Umar bin Khaththab. Di
antara mereka terdapat
seorang prajurit buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum.
Khalifah Umar mengangkat Sa’ad bin Abu Waqqash menjadi
panglima pasukan yang besar itu.
Kemudian, khalifah memberikan
instruksi-instruksi dan
pengarahan kepada Sa’ad. Setelah pasukan besar itu
sampai di Qadisiyyah, Abdullah bin
Ummi Maktum memakai baju besi
dan perlengkapan yang
sempurna. Dia tampil sebagai
pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa
mengibarkannya atau mati di
samping bendera itu. Pada hari ketiga perang itu,
perang berkecamuk dengan
hebat, yang belum pernah
disaksikan sebelumnya. Kaum
muslimin berhasil memenangkan
perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang
belum pernah direbutnya. Maka,
pindahlah kekuasaan kerajaan
Persia yang besar ke tangan
kaum muslimin, dan runtuhlah
mahligai yang termegah. Berkibarlah bendera tauhid di
bumi penyembah berhala itu. Kemenangan yang meyakinkan
itu dibayar dengan darah dan
jiwa dan ratusan para syuhada.
Di antara mereka yang syahid itu
terdapat Abdullah bin Ummi
Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan
tempur berlumuran darah
syahidnya, sambil memeluk darah
kaum muslimin.

0 comments: