Posted by aan on March 19, 2011 in Muhammad SAW · 0 Comment
Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah Az Zahra r.ha. putri kesayangan Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut ikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu yang manis, dan sehelai rambut).
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.
Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Tuesday, March 22, 2011
Mangkuk yang Cantik, Madu yang Manis dan Sehelai Rambut
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/22/2011 10:59:00 AM 0 comments
Tuesday, March 15, 2011
Tetesan air mata Seorang Ulama besar
Yaitu Syaikh Imam Muhammad Abduh, yang menceritakan kesedihannya di saat kepulangannya dari Eropa. Ia mengatakan bahwa ia telah menemukan praktik Islam di Eropa walaupun tidak menemukan umat Islam. Lalu ia kembali ke wilayah Timur, namun ia tidak menemukan Islam walaupun menemukan umat Islam.
Tetesan air mata tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk menikmati pemandangan laut yang indah dari atas kapal yang sedikit demi sedikit merayap ke tepi laut negerinya, Mesir. Hal itu dikarenakan Ia melihat - di kapal yang sama - seorang wanita Eropa sedang menasihati anaknya dengan nasihat - nasihat etika sosial, lantaran si anak memetik sekuntum bunga dari atas kapal, agar perbuatannya ini jangan sampai mempengaruhi para penumpang kapal lainnya.
Lalu Syaikh Muhammad Abduh menangis terharu oleh moralitas orang - orang Eropa yang mempraktikan nilai - nilai moral Islam dalam kehidupan mereka.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/15/2011 07:16:00 AM 0 comments
Monday, March 14, 2011
Kematian Nabi Sulaiman as. Mematahkan Fitnah
Jin bekerja untuk nabi Sulaiman selama beliau hidup, tatkala beliau wafat tugasnya pun akan terbebas. Nabi Sulaiman meninggal tanpa diketahui oleh jin sehingga para jin tetap bekerja dan mengabdi untuk beliau. Seandainya saja jin ada yang mengetahui hal yang ghaib ini maka jin tidak akan lagi meneruskan pekerjaan mereka. Akhir kisah nabi Sulaiman, yaitu ketika suatu hari beliau memasuki mihrabnya yang terletak di puncak gunung yang dindingnya terbuat dari permata untuk beri’tikaf, beribadah dan sholat. Dan bila beliau sedang berkhalwat, maka tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya. Ketika itu nabi Sulaiman duduk dan bersandar pada tongkatnya seperti sedang tenggelam dalam tafakur.
Beliau berdzikir kepada Allah hingga malaikat maut menemuinya dan nabi Sulaiman pun meninggal. Jin menyangka bahwa beliau sedang shalat sehingga mereka tetap melanjutkan pekerjaannya. Berlalulah waktu yang sangat panjang hingga rayap datang dan mulai memakan tongkatnya nabi Sulaiman.
Tongkat beliau pun menjadi rapuh dan keropos hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya, maka tubuh suci itu pun lalu jatuh dan tersungkur. Manusia pun berdatangan mendekatinya, dan mereka baru sadar bahwa nabi Sulaiman telah meninggal sejak lama. Jin menyadari bahwa mereka tidak mengetahui hal yang ghaib ini dan manusia pun menyadari pula hal yang sangat hakiki ini.
Itulah akhir dari kisah nabi Sulaiman as. yang meninggal dalam keadaan duduk dan shalat di mihrabnya. Berita ini segera menyebar, manusia, burung dan binatang buas mengantarkan jenazahnya dengan diiringi kesedihan yang mendalam. Semua makhluk bersedih, sekumpulan burung pun tampak menangis. Semenjak itu tak ada lagi orang yang dapat memahami bahasa burung, mungkin saja burung bersedih ditinggalkan nabi Sulaiman karena tidak ada lagi yang mengerti tentang bahasa mereka.
Wallahu ‘alam bishowab.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/14/2011 07:47:00 AM 0 comments
Monday, March 7, 2011
Tak Ada kemuliaan yang Melebihi Prajurit Badar
Posted by aan on March 7, 2011 in Sahabat Nabi · 0 Comment
Di Makkah ia tidak mempunyai kedudukan yang tinggi karena ia bukan dari keluarga bangsawan, juga bukan dari keluarga pembesar, bukan hartawan dan bukan pedagang. Tujuan hidupnya yang utama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan itu telah memberinya kemuliaan dan kehormatan. Di antara penghormatan Rasulullah SAW kepada Hatib yaitu baginda SAW telah mengutus ia agar datang kepada Al-Muqauqis, seorang pembesar suku Qibti dari Mesir, untuk menyampaikan surat Rasulullah yang isinya menyeru pada Al-Muqauqis ke dalam Islam.
Setelah Al-Muqauqis membaca surat baginda tersebut dengan cermat, ia memandang Hatib dan bertanya padanya: “Bukankah sahabatmu itu seorang Nabi?” Jawab Hatib. “Benar, Baginda adalah utusan Allah.” Mendengar jawaban Hatib, Al-Muqauqis mengirimkan beberapa hadiah kepada Rasulullah SAW di antara hadiah itu seorang hamba wanita bernama Mariyah Al-Qibtiyah.
Hatib Ibnu Balta’ah adalah seorang penduduk Yaman, ia adalah sahabat Zubair Ibnu Awwam. Ketika ia berhijrah ke Madinah, ia meninggalkan anak dan saudara-saudaranya. Pada masa jahiliyah, ia seorang penunggang kuda yang berani dan penyair ulung. Bait-bait syairnya sering disebarkan oleh para perawi dan dilagukan para kafilah dagang Arab. Ia masuk Islam ketika ia masih muda belia. Dan ia sangat tekun mempelajari syariat Islam dan ajarannya ketika ia masih muda. Selain itu pada perang Badar, ia turut bergabung dalam jihad fisabilillah; dan ia juga ikut bersama Rasulullah pergi ke Al-Hudaibiyah dan menyaksikan “Baiatur Ridwan.”
Mengkhanati Rasulullah
Pada tahun 8 H. di saat Rasulullah SAW sedang sibuk mempersiapkan penaklukan kota Makkah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah, ketika itu fikiran Hatib gundah gulana. Ia sedih memikirkan anak-anaknya dan keluarganya yang tidak aman daripada penganiayaan kaum Quraisy, karena di Makkah mereka tidak mempunyai pelindung yang dapat melindungi dan menjaga mereka daripada musuh-musuh Islam. Bisikan-bisikan syaitan selalu menggoda fikirannya hingga ia merasa kalut, dan fikirannya buntu. Maka ia memutuskan akan mendekati kaum musyrikin Quraisy dengan memberitahu pada mereka mengenai rahasia-rahasia kekuatan senjata yang telah dipersiapkan Rasulullah untuk penaklukan atas kota Makkah.
Tidak pernah terfikirkan olehnya, bahwa perbuatan itu merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa rahasia tentara adalah amanat yang ada di bahu para perajurit. Bila salah satu rahasia sampai dibocorkan, maka perajurit tersebut akan mendapat amarah dari Allah, malaikat-Nya dan semua kaum muslimin, karena ia membocorkan rahasia kekuatan laskar yang akan menghadapkan pasukannya pada bahaya dan sekaligus menghadapkan tanah air pada kebinasaan.
Itulah langkah yang terburuk dalam kehidupan Hatib Ibnu Balta’ah. Ia bertekad untuk memberitahu kaum Quraisy tentang tentara Islam yang telah dipersiapkan Rasulullah SAW. Cahaya iman telah padam di hatinya. Ia tidak lagi memikirkan keagungan akidah. Maka dengan tangan gemetar ia mulai menulis surat kepada pembesar-pembesar Quraisy, membuka rahasia laskar Islam yang dipersiapkan secara matang oleh Rasulullah ke Makkah, agar mereka mempunyai gambaran atas keadaan kaum muslimin Madinah.
Surat itu diserahkan kepada seorang wanita. Ia menyuruh wanita tersebut agar merahasiakan surat itu di sanggul rambutnya sehingga jika ada orang yang menghadang kenderaannya, maka surat itu tidak akan diketahui. Ia berjanji pada wanita itu akan memberi hadiah yang mahal bila surat itu telah sampai di tangan pembesar Quraisy.
Baru saja wanita tersebut meninggalkan Madinah, malaikat Jibril segera memberitahu Rasulullah tentang apa yang telah dilakukan Hatib. Maka Rasulullah cepat-cepat memanggil Ali Ibn Abi Thalib dan Zubair Ibn Awwam. Baginda berkata: “Kejarlah wanita itu, ia memberitahu surat Hatib untuk para pembesar Quraisy yang isinya menerangkan mereka tentang persiapan yang telah kita himpun dalam menaklukkan mereka.”
Ali dan Zubair bergegas keluar mencari wanita itu dan keduanya menemukan wanita tersebut di daerah Raudhah Khah. Ketika Ali ra. menyuruh wanita itu supaya mengeluarkan surat Hatib, wanita itu tidak mengaku kalau ia sedang membawa surat. Maka Ali pun berdiri dan memeriksa kenderaannya, tetapi ia tidak menemukan surat itu.
Akhirnya dengan marah Ali memandang wanita itu dan berkata: “Aku bersumpah kepada Allah bahwa Rasulullah tidak pernah berdusta. Sekarang kamu harus pilih apakah kamu mau menyerahkan surat itu kepadaku, ataukah aku harus menelanjangi kamu!” Setelah Ali bersikap kasar dan memberi dua pilihan, akhirnya wanita itu berkata: “Berpalinglah.” Setelah itu Ali membalikkan badan kemudian wanita itu membuka ikatan rambutnya dan mengeluarkan surat darinya, lalu menyerahkan surat itu kepada Ali.
Ali dan Zubair segera kembali kepada Rasulullah dengan membawa surat Hatib. Rasulullah menghadirkan Hatib Ibn Abu Balta’ah dan bertanya kepadanya, “Wahai Hatib, apa yang mendorong kamu berbuat demikian?” Maka oleh Hatib dijawab dengan nada terputus-putus: “Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa menghukum diriku. Semua itu kulakukan karena aku bukan dari golongan Quraisy, di Makkah aku masih mempunyai sanak saudara. Maka aku ingin kaum Quraisy menjaga keluargaku di Makkah. Dan sungguh, itu aku lakukan bukan karena aku telah murtad dari Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”
Rasulullah memandang semua sahabat yang hadir dengan wajah bersinar, dan baginda berkata kepada mereka: “Bagaimana pun juga, ia telah berkata jujur.”
Suasana majlis menjadi hening sejenak, tiba-tiba Umar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini.”
Umar berpandangan bahwa membocorkan rahasia-rahasia laskar Islam merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka balasannya adalah harus dibunuh. Orang yang mengadakan hubungan dengan musuh, maka balasannya adalah dijatuhi hukuman mati.
Sementara itu Rasulullah telah memaafkan Hatib karena ia telah mengakui dosanya. Selain itu baginda mengingat perjuangan Hatib di masa lalu karena ia berjuang di medan perang Badar, sehingga banyak pasukan musyrikin yang mati di bawah tebasan pedangnya. Ia berani menghadapi bahaya dengan menerjang barisan musuh. Rasulullah juga mengingat posisi Hatib pada hari Bai’atur Ridwan di bawah sebuah pohon yang diberkahi, di mana pada saat itu para malaikat menyaksikan orang-orang mukmin yang sedang mengulurkan tangan mereka untuk berbaiat kepada Rasulullah.
Kesalahan Hatib Dimaafkan
Atas tiga dasar itu, maka baginda memandang Umar dan berkata: “Wahai Umar bagaimana pendapatmu, jika Allah telah memberi kelonggaran pada pejuang Badar?” Allah berfirman dalam Al-Ouran surah Al-Mumtahanah ayat 1 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia, (sehingga) kamu menyampaikan kepada mereka (berita-berita) Muhammad, dikarenakan rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasulullah dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku. Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Barangsiapa di antara kamu yang melakukan, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan lurus.”
Hal lain yang menguatkan diterimanya taubat Hatib; pada suatu hari salah seorang pelayan Hatib datang kepada Rasulullah untuk mengadukan perlakuan Hatib kepadanya, kemudian pelayan itu berkata: “Wahai Rasulullah, kelak sungguh Hatib akan masuk neraka.” Tetapi Rasulullah berkata: “Tidak, karena ia ikut berperang pada peristiwa Badar dan juga ikut dalam perjanjian Hudaibiyah.”
Sejak saat itu, Hatib menangis menyesali perbuatannya. Siang dan malam dilakukan dengan selalu memohon ampunan kepada Allah atas kekhilafannya hingga ia meninggal dunia pada usia 53 tahun tepatnya pada tahun 30 H. yaitu pada masa pemerintahan Usman Ibn Affan. Ia menghadapi kematian dengan jiwa yang ridha karena ia tahu bahwa Rasulullah telah memaafkannya meskipun ia telah mengkhianati hak Allah, Rasulullah dan kaum mukminin.
Sumber : kisahislami.com
http://kisahislami.com/tak-ada-kemuliaan-yang-melebihi-prajurit-badar/
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/07/2011 11:50:00 AM 0 comments
Thursday, March 3, 2011
Beratnya Jadi Seorang Pemimpin
Di kisahkan dari Abu Wail Shaqiq
bin Salamah sesungguhnya Umar
bin Khathab ra. telah melantik
Bashar bin Asim ra. untuk
memungut zakat penduduk
Hawazin. Bashar ra. telah melewat-lewatkan kepergiannya
lalu beliau telah ditemui oleh
Umar ra. dan telah berkata
kepadanya, “Apakah yang telah menyebabkanmu terlambat?”. Adakah kamu tidak mendengar
dan taat kepada perintah
kami?”. Bashar ra. berkata, “Tidak, melainkan aku telah mendengar Rasulullah SAW
bersabda,”Barang siapa yang menjadi ketua bagi sesuatu
urusan kaum Muslimin, maka ia
akan datang pada hari kiamat
sehingga ia akan berdiri di atas
sebuah jembatan Neraka. Jika ia
telah melakukan kebaikan, ia akan selamat. Jika telah
melakukan kejahatan, jembatan
itu akan runtuh lalu ia akan
terjatuh ke dalam api Neraka
tersebut selama tujuh puluh
tahun”. Abu Dzar ra. telah berkata
kepada Umar ra. “Adakah kamu telah mendengar sesuatu dari
Rasulullah SAW?” Umar ra. pun menjawab. “Tidak”. Abu Dzar ra. berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW
bersabda, ‘ Barangsiapa yang bertanggungjawab ke atas
urusan kaum Muslimin, ia akan
datang pada hari kiamat
sehingga ia akan berdiri di atas
sebuah jembatan neraka. Jika
beliau melakukan melakukan kebaikan dalam
tanggungjawabnya ia akan
selamat. Jika sebaliknya
jembatan itu akan rubuh dan ia
akan tejatuh ke dalam neraka
itu selama tujuh puluh tahun dan Neraka itu amat gelap dan
hitam’ . Maka hadis yang mana satukah
yang lebih menggetarkan
hatimu?”. Umar ra. mejawab, “Kedua-duanya. Oleh karena itu siapakah yang mau mengambil
jabatan Khalifah ini?”. Abu Dzar ra. pun berkata, “Hanya orang yang hidungnya telah terpotong
dan pipinya telah dilekatkan
diatas tanah yang akan
mengambil alih jabatan ini.
Adapun aku tidak mengetahui
melainkan jabatan Khalifah ini baik untuk mu. Karena jika kamu
memberikan jabatan Khalifah ini
kepada seseorang yang tidak
akan berlaku adil, kamu juga
akan menanggung dosa bersama
dengannya”.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/03/2011 01:33:00 PM 0 comments
Wednesday, March 2, 2011
Kisah Penuh Hikmah Dari Luqman Hakim
Dalam sebuah riwayat
diceritakan bahwa pada suatu
hari Luqman Hakim telah masuk
ke dalam pasar dengan menaiki
seekor himar, dan anaknya
mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu,
setengah orang-orang pun
berkata, ‘ Lihat orang tua itu yang tidak punya rasa kasihan
karena anaknya dibiarkan
berjalan kaki.” Setelah mendengarkan desas-
desus dari orang-orang maka
Luqman pun turun dari himarnya
itu lalu diletakkan anaknya di
atas himar itu. Melihat yang
demikian, maka orang di passar itu berkata pula, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan
anaknya enak saja menaiki himar
itu, sungguh kurang adab anak
itu.” Mendengar kata-kata orang di
pasar itu, Luqman pun terus naik
ke atas belakang himar itu
bersama-sama dengan anaknya.
Kemudian orang ramai kini
berkata lagi, “Lihatlah itu dua orang menaiki seekor himar,
sungguh sangat menyiksa himar
itu.” Kerana tidak suka mendengar
percakapan orang-orang di
pasar itu, maka Luqman dan
anaknya turun dari himar itu,
kemudian terdengar lagi suara
orang berkata, “Dua orang kok berjalan kaki, sedangkan himar
itu tidak dikenderai, betapa
bodohnya mereka” Dalam perjalanan pulang ke
rumah, Luqman Hakim telah
menasihatai anaknya tentang
sikap manusia dan ocehan
mereka, katanya,
“Sesungguhnya tidak akan terlepas seseorang itu dari
pergunjingan manusia. Dan hanya
orang yang berakal yang akan
mengambil pertimbangan hanya
kepada Allah S.W.T saja. Barang
siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya
dalam setiap urusan hidupnya.” Kemudian Luqman Hakim
berpesan kepada anaknya,
katanya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal
supaya kamu tidak menjadi fakir.
Sesungguhnya tiadalah orang
fakir itu melainkan tertimpa
kepadanya tiga perkara, iaitu
tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah
akalnya (mudah tertipu dan
diperdayai orang) dan hilang
kemuliaan hatinya
(keperibadiannya), dan lebih
celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka
merendah-rendahkan dan
meringan-ringankannya.”
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 3/02/2011 12:52:00 PM 0 comments
