Kala itu di perang Hunain, kaum muslimin menghadapi kafir Quraisy dengan kekuatan tidak berimbang. Kafir Quraisy berjumlah lebih banyak dibanding umat Islam, yang didominasi kaum Anshor. Pertempuran berlangsung sengit dan menimbulkan banyak korban. Sampai akhirnya, dengan kehendak Allah, kaum muslimin beroleh kemenangan.
Kepada para tawanan perang, Rasulullah menawarkan mereka untuk masuk Islam. Sebagian menerimanya. Dan sebagai ‘penghargaan’ Rasulullah menghadiahi mereka dengan ghanimah yang cukup besar. Hal ini didengar oleh kaum Anshor dan ternyata menimbulkan rasa cemburu di benak mereka, “Belumlah kering darah yang menetes dari pedang kita, Rasul telah berlaku demikian”
Hal ini ternyata didengar oleh Rasulullah yang lalu mengumpulkan mereka di suatu tempat. “Hai kaum Anshor, aku ingin bertanya kepada kalian. Bukankah dulu aku datang kepada kalian ketika kalian dalam kenistaan lalu Islam datang membawa kemuliaan melalui perantaraanku; bukankah kalian dulu bertikai lalu Islam mendamaikannya melalui aku?”
Setiap pertanyaan itu selalu dijawab kaum Anshor; “Benar wahai Rasul! Allah dan Rasul-Nya lebih utama!”
Namun Rasulullah selalu kembali bertanya, “Mengapa kalian tidak menjawab?”
“Apa lagi yang harus kami katakan wahai Rasulullah?”
Rasulullah berkata, “Demi Allah, bila kalian mau kalian dapat menjawab: sesungguhnya saat itu engkau datang sebagai orang yang didustakan lalu kami benarkan; engkau datang sebagai orang yang dihinakan namun kami bela; engkau datang sebagai orang yang menderita lalu kami santuni”
Kaum Anshor menyahut histeris, “kemuliaan ada pada allah dan Rasul-Nya.
Nabi lanjut berkata, “Wahai kaum Anshor, apakah kalian masih menginginkan sampah keduniaan yang tiada artinya itu? Apakah kalian tidak bangga melihat orang lain membawa kambing dan unta (ghanimah) sedangkan kalian pulang bersama Aku? Sungguh bila suatu kaum berjalan di suatu lereng gunung dan kaum Anshor berjalang di lereng gunung lainnya, niscaya aku akan berjalan di belakang kaum Anshor. Ya Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshor, anak-anak kaum Anshor, dan cucu kaum Anshor.”
Kaum Anshor menangis histeris mendengarnya sampai jenggotnya basah oleh air mata. “Kami rela mendapatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai jatah kami”
Friday, May 20, 2011
Belumlah Kering Darah yang Menetes dari Pedang Kita
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:07:00 PM 0 comments
Aku Ingin Menemui Allah Dengan Jubah Itu
Paman Rasulullah SAW yang satu ini adalah alumni dari Medan Jihad Badar dan Uhud. Adiknya yang belum baligh bernama Umair r.a menemui syahidnya di tanah Badar. Nama mujahid yang merobek-robek kekaisaran Persia ini bernama Sa’ad bin Abi Waqqash r.a.
Adalah Khalifah ‘Umar Al-Faruq hendak bertekad menyerang kerajaan Persia, untuk menggulingkan pusat pemerintahannya, dan mencabut agama berhala sampai keakar-akarnya di permukaan bumi. Khalifah ‘Umar memerintahkan kepada setiap Gubernur dalam wilayahnya, supaya mengirim kepadanya setiap orang yang mempunyai senjata, atau kuda, atau setiap orang yang mempunyai keberanian, kekuatan, atau orang yang berpikiran tajam, yang mempunyai suatu keahlian seperti syi’ir, berpidato dan sebagainya, yang dapat membantu memenangkan perang. Maka tumpah ruahlah ke Madinah para pejuang muslim dari setiap pelosok.
Setelah semuanya selesai melapor, Khalifah ‘Umar merundingkan dengan para pemuka yang berwenang, siapa kiranya yang pantas dan dipercaya untuk diangkat menjadi panglima angkatan perang yang besar itu. Mereka sepakat dengan aklamasi menunjuk Sa’ad bin Abi Waqqash, singa yang menyembunyikan kuku. Lalu Khalifah menyerahkan panji-panji perang kaum muslimin kepadanya dengan resmi, dalam pengangkatannya menjadi panglima.
Sewaktu angkatan perang yang besar itu hendak berangkat, Khalifah ‘Umar berpidato memberi amanat dan perintah harian kepada Sa’ad. Umar berkata, “Hai Sa’ad! Janganlah engkau terpesona, sekalipun engkau paman Rasulullah, dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Allah menghapus kejahatan dengan kebaikan. Hai, Sa’ad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seorangpun melainkan dengan mentaati-Nya. Segenap manusia sama di sisi Allah, baik ia bangsawan atau rakyat jelata. Allah adalah Rabb mereka, dan mereka semuanya adalah hamba-hamba-Nya. Mereka berlebih-berkurang karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikan cara Rasulullah yang engkau telah ketahui, maka tetaplah ikuti cara beliau itu”.
Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Di dalamnya terdpat 99 orang bekas pahlawan perang Badar, lebih kurang 319 orang para sahabat yang tergolong dalam bai’at Ridwan, 300 orang pahlawan yang ikut dalam penaklukan Makkah bersama-sama Rasulullah saw., 700 orang putra-putra para sahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya (yang keseluruhan berjumlah 30.000 orang). Sampai di Qadisiyah, Sa’ad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Pada hari Al-Harir kaum muslimin bertekad menjadikan hari itu sebagai hari yang menentukan. Mereka mengepung musuh dengan ketat, lalu maju ke depan dari segala arah, sambil membaca takbir.
Dalam pertempuran itu, kepala Rustam, panglima tentara Persia, berpisah dengan tubuhnya oleh lembing kaum muslimin. Maka masuklah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuh-musuh Allah. Sehingga dengan mudah kaum muslimin menghadapi para prajurit Persia dan membunuh mereka. Bahkan kadang-kadang mereka membunuh dengan senjata musuh itu sendiri.
Sa’ad bin Abi Waqqash dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan. Tetapi ketika wafat telah mendekatinya, dia hanya meminta sehelai jubah usang. Ia berkata, “Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapatkan dari seorang musyrik dalam perang Badar. Aku ingin menemui Allah ‘Azza wa jalla dengan jubah itu”. Wallaahu a’lam bish showaab
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:06:00 PM 0 comments
Ashabul Ukhdud (Para Pembuat Parit)
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Pada zaman dahulu, sebelum masa kalian ada seorang raja, dia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir ini sudah semakin tua, dia berkata kepada raja tersebut: “Saya sudah tua, carikan untukku seorang pemuda remaja yang akan saya ajari sihir.” Maka raja itupun mencari seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir.
Adapun pemuda itu, di jalanan yang dilaluinya (menuju tukang sihir) itu ada seorang rahib (ahli ibadah). Lalu dia duduk di majelis rahib tersebut, mendengarkan wejangannya dan ternyata uraian tersebut menakjubkannya. Akhirnya, jika dia mendatangi tukang sihir itu, dia melewati majelis si rahib dan duduk di sana. Kemudian, setelah dia menemui tukang sihir itu, dia dipukul oleh tukang sihir tersebut. Pemuda itupun mengadukan keadaannya kepada si rahib. Kata si rahib: “Kalau engkau takut kepada si tukang sihir, katakan kepadanya: ‘Aku ditahan oleh keluargaku.’ Dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakan kepada mereka: ‘Aku ditahan oleh tukang sihir itu’.”
Ketika dia dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak. Pemuda itu berkata: “Hari ini saya akan tahu, tukang sihir itu yang lebih utama atau si rahib.” Diapun memungut sebuah batu dan berkata: “Ya Allah, kalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa berlalu.” Pemuda itu melemparkan batunya hingga membunuhnya. Akhirnya manusiapun dapat melanjutkan perjalanannya.
Kemudian pemuda itu menemui si rahib dan menceritakan keadaannya. Si rahib berkata kepadanya: “Wahai ananda, hari ini engkau lebih utama daripadaku. Kedudukanmu sudah sampai pada tahap yang aku lihat saat ini. Sesungguhnya engkau tentu akan menerima cobaan, maka apabila engkau ditimpa satu cobaan, janganlah engkau menunjuk diriku.”
Pemuda itupun akhirnya mampu mengobati orang yang dilahirkan dalam keadaan buta, sopak (belang), dan mengobati orang banyak dari berbagai penyakit. Berita ini sampai ke telinga teman duduk sang raja, yang buta matanya. Diapun menemui pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, lalu berkata: “Semua hadiah yang ada di sini adalah untuk engkau, saya kumpulkan, kalau engkau dapat menyembuhkan saya (dari kebutaan ini).”
Anak muda itu menjawab: “Sebetulnya, saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau engkau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya doakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu Dia sembuhkan engkau.”
Teman sang raja itupun beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkannya. Kemudian dia menemui sang raja dan duduk bersamanya seperti biasa. Raja itu berkata kepadanya: “Siapa yang sudah mengembalikan matamu?”
Dia menjawab: “Rabbku.” Raja itu menukas: “Apa kamu punya tuhan selain aku?” Orang itu berkata: “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Raja itupun menangkapnya dan tidak berhenti menyiksanya sampai dia menunjukkan si pemuda. Akhirnya si pemuda ditangkap dan dibawa ke hadapan raja tersebut. Sang raja berkata: “Wahai anakku, telah sampai kepadaku kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta, sopak, dan kamu berbuat ini serta itu.”
Pemuda itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Raja itu menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sampai dia menunjukkan si rahib. Akhirnya si rahib ditangkap dan dihadapkan kepada sang raja dan dipaksa: “Keluarlah dari agamamu.” Si rahib menolak. Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua.
Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan diapun dipaksa: “Keluarlah kamu dari keyakinanmu.” Pemuda itu menolak.
Akhirnya raja itu memanggil para prajuritnya:
“Bawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas.” Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemudapun berdoa: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.” Seketika gunung itu bergetar dan merekapun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui sang raja. Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata: “Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.” Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.” Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.
Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Lalu si pemuda melanjutkan: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”
Kata si pemuda: “Kau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah busur lalu ucapkanlah: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya niscaya engkau akan dapat membunuhku.”
Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata: “Bismillahi Rabbil ghulam”, kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu dan diapun tewas. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata: “Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”
Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya: “Apakah anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).”
Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata: “Siapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau: ceburkan ke dalamnya).” Merekapun melakukannya, sampai akhirnya diseretlah seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Wanita itu mundur (melihat api yang bernyala-nyala), khawatir terjatuh ke dalamnya (karena sayang kepada bayinya). Tapi bayi itu berkata kepada ibunya: “Wahai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau di atas al-haq.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah ini juga dalam Kitab-Nya yang mulia dalam surat Al-Buruj:
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar….”
Itulah kisah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan dalam Kitab-Nya yang mulia agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah mereka.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:05:00 PM 0 comments
Ashim bin Amir dan Kisah Pasukan Berani Mati
Tatkala Sa’ad telah memutuskan niatnya untuk menyeberangi sungai dengan menaiki kuda dan mengerahkan seluruh kekuatannya dalam menaklukkan wilayah Madain, ia pun sadar bahwa dia harus mempunyai persiapan kekuatan energi yang super demi menguasai jembatan yang terletak di seberang sungai tersebut.
Dengan demikian sebagian besar pasukan muslimin yang menyeberang akan terlindungi (selamat).
Sa’ad berkata, “Siapakah yang akan memulai dan menjamin keselamatan kami semua dari serangan yang dilancarkan dari al- Furadh –nama tempat di arah seberang sungai– sehingga kita bertemu dengan musuh, agar mereka tidak mencegahnya keluar?”
Dengan suka rela Ashim mengajukan diri dan diikuti oleh 600 orang pasukan. Kemudian Sa’ad menjadikan Ashim sebagai pemimpin mereka. Pasukan tersebut mulai bergerak, sehingga tiba di tepi sungai Dajlah (Tigris).
Ashim berkata kepada pasukannya, “Siapa yang merasa tertantang bersamaku untuk menjadi orang pertama yang menaklukkan laut ini, sehingga kita mampu menyelamatkan al-Furadh dari seberang sana?”
Kemudian 60 pasukan berkuda itu bangkit, mereka inilah yang diberi nama Pasukan Berani Mati.
Ashim membagi pasukan berkuda menjadi dua bagian, pasukan berkuda betina dan pasukan berkuda jantan.
Ashim menuju pinggir sungai, kemudian menyeru kepada mereka yang masih ragu menyeberang, “Apakah kalian merasa takut menyeberangi air yang setetes ini?”
Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,
‘Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.’ (Al-Imran : 145).
Ashim memacu kudanya dan menerobos sungai, disertai pasukannya. Tatkala ia melihat pasukan berkuda musuh juga menerobos ke dalam sungai, lalu mereka bertanding ditengah sungai. Lalu Ashim menyeru,
“Pasukan tombak, majulah, bidiklah mata.” Mereka bertempur dan saling menikam. Pasukan berkuda menguasai wilayah Persi, lalu kaum muslimin mengikuti mereka dan berhasil membunuh sebagian besar pasukan musuh. Sementara jika di antara musuh ada yang selamat maka mata mereka buta karena terkena tikaman.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:04:00 PM 0 comments
Labels: Kisah Sahabat Rasul
Kisah Wanita Pemungut Sampah yang DiSholatkan oleh Rasulullah SAW
Sebuah riwayat dari Abu Hurairah r.a bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam bernama Ummu Mahjan yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah SAW merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Para sahabat lalu berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah SAW kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:
“Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.” HR An-Nasa’i
Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan r.ha yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam perputaran sejarah bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil.
Oleh karena itu ia mendapatkan perhatian dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga ia wafat. Sehingga beliau menyalahkan para shahabat Beliau yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal kematiannya agar beliau dapat mengantarkan Ummu Mahjan ke tempat tinggalnya yang terakhir di dunia. Bahkan tidak cukup hanya demikian namun beliau bersegera menuju kuburnya untuk menshalatkannya agar Allah menerangi kuburnya dengan shalat beliau.
Dipostingkan oleh Rizky Ramdhona Putra at 5/20/2011 11:03:00 PM 0 comments
